NON

what if all these fantasies come flailing around?

And for one desperate moment there
He crept back in her memories
God it’s so painful when something’s so close
Is still so far out of reach

—American Girl - Tom Petty

Oh my heart, it breaks every step that I take
But I’m hoping at the gates
They’ll tell me that you’re mine

—Born to Die - Lana Del Rey

She just loved him so much. And in the end, he didn’t really love her back. It’s just sad.

—When in Rome

Cinta Anak 13 Tahun, Cinta Sejati

Sebuah cerita untuk anak gadisku tersayang, 

Pada usia 13 tahun, perempuan cenderung dramatis. Ketika seorang lelaki datang menghampirinya dan mengajaknya ngobrol, pulang sekolah dia akan mengumpulkan sembilan teman anggota “geng”-nya dan menceritakan setiap detailnya. Teman-temannya akan berespon dengan teriakan yang melengking, tawa yang meledak, ungkapan iri, atau bahkan cemooh tanda tidak setuju.

Perempuan berusia 13 tahun selalu memiliki opini. Mereka mulai mengenal bermacam-macam emosi: marah, bahagia, takut, resah, semangat, panik dan lain sebagainya. Mereka mulai berusaha untuk berfikir untuk diri mereka sendiri, dan tidak bergantung pada pendapat orang tua. Perempuan umur 13 tahun meresap segala yang terjadi di sekitar mereka, mereka mau menjadi semuanya: ketua osis, pacar pemain basket, penari, juara kelas.

Anak umur 13 tahun yang satu ini tidak memiliki keinginan setinggi itu. Dia tidak suka berdiri di depan kelas dan menjadi pusat perhatian. Dia memperhatikan lelaki pemalu yang disukainya dari jauh. Kelas mereka berseberangan dipisahkan taman, dan dia duduk di salah satu bangku kayu bersama teman-temannya, kadang lelaki kadang perempuan, dan dia mengawasi tingkah lelaki itu. Dia tidak tahu pada saat itu, ketika si perempuan mengalihkan perhatiannya supaya tidak tertangkap, si lelaki gantian menikmati pemandangan di depan matanya. Ternyata si lelaki juga menyukai si perempuan. Setelah satu usaha perkenalan yang berakhir buruk, cerita ini diakhiri dengan mereka hanya mengetahui nama satu sama lain dan tidak lebih.

Cerita cinta ini bukan tentang mereka berdua. Cerita ini mengenai si perempuan yang jatuh cinta pada umur 13 tahun dan bertahan sampai detik ini.

Suatu hari dia mendengar satu lagu dimainkan di radio: “I tried so hard and got so far, but in the end it doesn’t even matter..” Lagu yang dipopulerkan oleh sebuah band bernama Linkin Park. Sampai pada saat ini, itulah satu cintanya (selain kepada keluarga, tentunya) yang bertahan. Lewat lirik lagu-lagu band tersebut, dia menemukan teman. Teman yang tidak perlu diajak berbicara sudah mengerti apa yang ada di pikirannya. Teman yang menuliskan, di atas kertas hitam bertulisan putih, semua yang dia rasakan tapi tak mampu dia utarakan. Sekali lagi, perempuan umur 13 tahun cenderung dramatis. Tentu saja dia tidak mengalami setiap hal yang tertulis di sana, hanya saja pada saat itu emosi seperti itu terasa baru tapi tidak asing. Seperti teman lama yang terpisah puluhan tahun.

Sejak saat itu, cintanya tidak (atau belum) pernah berubah. Seiring dengan perubahan waktu, band itu merubah warna musiknya, tapi tidak sekalipun mereka mengecewakan perempuan itu. Dan perempuan itu, setelah 10 tahun kemudian, masih menemukan kenyamanan di setiap lirik lagunya.

Cinta seharusnya seperti itu, Sayang. Bukan rasa bahagia yang meluap sesaat lalu hilang keesokan harinya, bukan rasa ingin memiliki yang begitu besar yang akhirnya mengendalikan dirimu sendiri. Cinta memberikan rasa nyaman, dan kamu tidak perlu untuk menjadi seseorang selain dirimu sendiri. Cinta dibuktikan oleh ujian waktu, cinta diasah oleh perbedaan pendapat dan kerelaan untuk mengalah. Apa yang kamu rasakan saat ini adalah cinta anak umur 13 tahun yang dramatis. Cinta ini nanti akan dikalahkan oleh cinta anak umur 14 tahun, 15 tahun, dan seterusnya. I don’t mean to be patronising, I just want you to keep this in mind. Perempuan itu menemukan cinta umur 13 tahun-nya dalam sosok lelaki remaja tampan berkulit sawo mateng yang mengenal dia tidak lebih dari sekedar nama dan kelas, tapi cinta sejatinya adalah cinta yang sampai sekarang masih bertahan dan tidak sedikitpun berubah.

Tidak Seperti Ini

Surat cinta ini tidak berisi kata-kata indah. Kamu salah kalau berfikir bahwa kamu akan mendapat kata-kata sanjungan yang memanjakan mata dan hati. Surat ini ditulis dengan cinta. Sayangnya, cinta yang aku tahu bukan cinta yang indah, bukan cerita tentang sepasang kekasih bergandengan tangan dengan matahari terbenam sebagai latar belakang. Cinta yang melandasi surat ini adalah cerita seseorang dengan baju kumuh, rambut kusut berantakan, duduk di lantai menghadap ke depan. Menghadap ke kamu. Kamu yang tidak akan pernah mengakuiku apalagi membiarkanku memilikimu.

Apakah cinta kalau hanya sebelah tangan? Apakah cinta kalau bahkan keberadaannya hanya ada di angan? Apakah cinta kalau yang kurasakan hanya kekurangan? Apakah cinta kalau tidak mengangkat malah membuatku terperosok ke jurang yang luar biasa dalam?

Mungkin surat ini bukan didasarkan rasa cinta, tapi obsesi akan kesempurnaan yang selama ini kamu pancarkan. Cahaya terang menyilaukan yang masuk ke dalam hati melalu celah-celah kecil, semakin lama semakin banyak, dan mata hatiku seiring dengan berjalannya waktu menyesuaikan diri dengan intensitasmu yang membutakan. Sampai pada akhirnya, sekarang aku tidak tahu lagi kalau ada cahaya lain selain yang terpancar dari keberadaanmu.

Ini bukan cinta, aku yakin itu sekarang. Cinta tidak akan mendewakanmu dan meniadakanku. Cinta seharusnya tidak seperti ini.

Kamu dan Hujan

Siang hari tadi hujan turun begitu deras. Aku duduk di lantai di teras, tidak peduli akan cipratan hujan yang menyerang sekujur tubuhku. Dengan mata terpejam aku memainkan kembali saat-saat terakhir kita menikmati hujan bersama. Well, kamu menikmati dan aku menemani.

Kamu selalu suka hujan. Aku benci itu. Aku benci suaranya yang menurutku sangat mengganggu. Aku benci hujan yang membuat mobil yang baru kucuci tadi pagi kotor dan aku harus mencucinya lagi esok hari. Aku benci hujan yang membuat jalan licin, kamu jadi gampang terpeleset. Tapi kamu, kamu bisa membuat hujan menjadi satu entiti dengan dirimu sendiri. Kamu selalu keluar rumah ketika suara rintik hujan mulai terdengar, tak peduli apa yang sedang kamu lakukan. Kadang aku sedang berbicara serius dan kamu hanya mengangkat satu jari. Aku lalu hanya perlu mencoba mencari suara itu dan aku tahu apa yang akan kamu lakukan. Kamu rela dirimu basah kuyup terjerang penyakit flu karena hujan padahal kamu selalu ngomel kalau aku yang menularkannya kepadamu.

Jujur saja, dulu aku cemburu. Aku tidak senang kamu yang tampaknya lebih memilih untuk hidup tanpaku daripada hujan. Kamu bilang kalau cintamu kepada hujan adalah misteri yang tidak perlu digali. Aku mengangguk saja, meskipun waktu itu aku merasa kamu sedang berbicara sembarangan. Akhirnya aku sadar bahwa aku tidak akan menang dari hujan, tapi kamu juga tidak akan berhenti mencintaiku.

Tadi siang aku duduk di teras menantang hujan yang kian lama kian deras. Hujan membuatku merasakan kembali kehadiranmu yang begitu dekat, sedekat tetesan air di ujung hidungku. Aku mencintaimu lebih besar dari dendam kesumatku kepada hujan. Dan benar, aku tidak bisa menang. Kamu dan hujan telah mengalahkanku.

Hari Ini Tepat Satu Tahun

Hari ini tepat satu tahun sejak kamu pergi. Setiap pagi aku terbangun oleh mimpi yang sama, kegelapan sangat pekat yang semakin lama semakin terasa familiar, tapi tidak berkurang sedikitpun kesesakannya. Kata mereka, waktu menyembuhkan luka. Apakah waktu juga mengisi kekosongan? Waktu tidak membuat segalanya lebih mudah, waktu tidak membuat kamar kosong ini lebih hangat tanpa keberadaanmu.

Aku sudah tidak lagi marah kepada dunia, alam semesta atau apapun itu, dan aku sungguh sudah bisa menerima kenyataan bahwa kamu sekarang bahagia di tempat yang keberadaannya masih merupakan mitos. Aku percaya kamu ada di suatu tempat di sana yang aku tidak jelas di mana.

Tepat satu tahun, bumi sudah satu kali mengitari matahari dan aku masih berada tepat di mana aku berada satu tahun lalu. Setiap harinya aku mencoba untuk menepati janjiku kepadamu. Kamu licik, kamu tahu aku akan mencoba untuk tidak mengingkarinya, karena itu kamu membuatku berjanji kepadamu. Well, satu tahun dan setiap harinya aku menepati janjiku. Aku harap itu cukup. Itu harus cukup.

Ingatkah kamu, malam itu kita sedang terkapar di sofa karena kekenyangan menghabiskan tiga kotak makanan dan dua piring nasi. Kamu tersenyum, menatapku dan berkata bahwa kamu akan lebih dulu meninggalkan aku. Aku tertawa, kamu memang suka begitu, mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. Aku tertawa dan berkata bahwa aku akan mengikutimu kemanapun kamu pergi. Kamu menjawabku dengan senyuman tanpa berkata apa-apa. Pada saat itu aku rasakan kamu tidak tahu harus berkata apa.

Setiap pagi dalam satu tahun aku menghentikan diri untuk mengikutimu, dan setiap malam aku menyadari bahwa tidak ada tempat lain di dunia ini yang lebih baik untukku. Kamu sudah tidak ada di dunia ini. Aku harus pergi ke dunia itu, dunia di mana kamu berada.

Pagi ini, aku terbangun lagi oleh mimpi yang sama, tapi dengan harapan yang baru. Di akhir hari ini aku akan bertemu denganmu. Dan sejujurnya, aku tidak tahu kenapa aku tidak melakukannya dari dulu.

Sampai berjumpa lagi, sayang.

Anonymous

Hai. Pada saat kamu membaca surat ini, kamu pasti sedang melihat lekat-lekat tulisanku ini, menebak-nebak siapa yang mencoba ngerjain kamu dengan surat ini. Surat ini bukan surat lelucon untuk bahan tertawaan. Tentu saja, mungkin setelah kamu membaca surat ini kamu akan menertawakan kebodohanku.

Perkenalkan namaku adalah … Ah, tidak penting siapa namaku. Aku bahkan terlalu pengecut untuk memberikan surat ini langsung kepadamu. Maaf, bukannya mau membuatmu bingung, tapi sejujurnya aku tidak bisa menghadapi kenyataan kalau kamu tahu siapa aku dan perasaan ini tetap bertepuk sebelah tangan.

Sudah lebih dari 5 tahun sejak pertama kali aku melihatmu dan sejak itu tanpa kusadari kamu selalu ada di sudut belakang ingatanku. Kamu tidak tiap kali muncul dan mengganggu, tapi aku selalu bisa merasakan bayanganmu menghantui langkah kakiku. Kita bertemu beberapa kali tapi kamu tidak pernah ingat namaku. Kamu selalu mencoba untuk bersikap ramah dan tersenyum, melontarkan pertanyaan-pertanyaan standar. Aku sadari ini karena kamu tidak tahu aku siapa, bagaimana mungkin kamu tahu tentang kehidupan pribadiku. Biarpun begitu, kamu selalu terasa hangat. Dengan segala kelebihanmu, kamu tidak membuat aku merasa bahwa aku bukan siapa-siapa.

Aku tidak akan bilang bahwa aku mencintaimu, karena aku bahkan tidak tahu nama belakangmu. Aku hanya berharap bahwa kamu tidak akan pernah tahu bahwa akulah penulis surat ini, dan aku berharap suatu saat nanti akan terbukti bahwa pertemuan-pertemuan pendek tidak disengaja kita adalah tanda bahwa kita akan bertemu kembali. Saat di mana bintang-bintang membentuk satu garis, kamu melihat aku dan menyadari bahwa akulah yang selama ini kamu cari.

Dengan Cinta

Kamu tidak yakin apakah ini cinta. Inilah yang aku tahu:

Aku mencintaimu dengan cinta selebar sayap elang yang tak kunjung lelah menjelajahi langit.

Aku mencintaimu dengan cinta setinggi pohon yang tidak berhenti tumbuh.

Aku mencintaimu dengan cinta sedalam gayung yang selalu ada untuk meraup air.

Aku mencintaimu dengan cinta sebebas burung, yang bisa terbang ke manapun ia mau, tetapi selalu pulang ke rumah.

Aku mencintaimu dengan cinta semurni air yang tidak pernah mempermasalahkan dirinya dipakai untuk apa.

Aku mencintaimu dengan cinta selincah anak kecil yang selalu bangkit berdiri meskipun kerap kali jatuh, lutut menghantam tanah.

Aku mencintaimu dengan cinta sebesar rumah yang mungkin tidak besar tapi selalu berusaha untuk memberikanmu kehangatan.

Aku mencintaimu dengan keterbatasan, tidak lebih dan tidak kurang dari aku apa adanya. Dan aku akan mencintaimu terus sampai akhirnya aku tiada.