Sebuah cerita untuk anak gadisku tersayang,
Pada usia 13 tahun, perempuan cenderung dramatis. Ketika seorang lelaki datang menghampirinya dan mengajaknya ngobrol, pulang sekolah dia akan mengumpulkan sembilan teman anggota “geng”-nya dan menceritakan setiap detailnya. Teman-temannya akan berespon dengan teriakan yang melengking, tawa yang meledak, ungkapan iri, atau bahkan cemooh tanda tidak setuju.
Perempuan berusia 13 tahun selalu memiliki opini. Mereka mulai mengenal bermacam-macam emosi: marah, bahagia, takut, resah, semangat, panik dan lain sebagainya. Mereka mulai berusaha untuk berfikir untuk diri mereka sendiri, dan tidak bergantung pada pendapat orang tua. Perempuan umur 13 tahun meresap segala yang terjadi di sekitar mereka, mereka mau menjadi semuanya: ketua osis, pacar pemain basket, penari, juara kelas.
Anak umur 13 tahun yang satu ini tidak memiliki keinginan setinggi itu. Dia tidak suka berdiri di depan kelas dan menjadi pusat perhatian. Dia memperhatikan lelaki pemalu yang disukainya dari jauh. Kelas mereka berseberangan dipisahkan taman, dan dia duduk di salah satu bangku kayu bersama teman-temannya, kadang lelaki kadang perempuan, dan dia mengawasi tingkah lelaki itu. Dia tidak tahu pada saat itu, ketika si perempuan mengalihkan perhatiannya supaya tidak tertangkap, si lelaki gantian menikmati pemandangan di depan matanya. Ternyata si lelaki juga menyukai si perempuan. Setelah satu usaha perkenalan yang berakhir buruk, cerita ini diakhiri dengan mereka hanya mengetahui nama satu sama lain dan tidak lebih.
Cerita cinta ini bukan tentang mereka berdua. Cerita ini mengenai si perempuan yang jatuh cinta pada umur 13 tahun dan bertahan sampai detik ini.
Suatu hari dia mendengar satu lagu dimainkan di radio: “I tried so hard and got so far, but in the end it doesn’t even matter..” Lagu yang dipopulerkan oleh sebuah band bernama Linkin Park. Sampai pada saat ini, itulah satu cintanya (selain kepada keluarga, tentunya) yang bertahan. Lewat lirik lagu-lagu band tersebut, dia menemukan teman. Teman yang tidak perlu diajak berbicara sudah mengerti apa yang ada di pikirannya. Teman yang menuliskan, di atas kertas hitam bertulisan putih, semua yang dia rasakan tapi tak mampu dia utarakan. Sekali lagi, perempuan umur 13 tahun cenderung dramatis. Tentu saja dia tidak mengalami setiap hal yang tertulis di sana, hanya saja pada saat itu emosi seperti itu terasa baru tapi tidak asing. Seperti teman lama yang terpisah puluhan tahun.
Sejak saat itu, cintanya tidak (atau belum) pernah berubah. Seiring dengan perubahan waktu, band itu merubah warna musiknya, tapi tidak sekalipun mereka mengecewakan perempuan itu. Dan perempuan itu, setelah 10 tahun kemudian, masih menemukan kenyamanan di setiap lirik lagunya.
Cinta seharusnya seperti itu, Sayang. Bukan rasa bahagia yang meluap sesaat lalu hilang keesokan harinya, bukan rasa ingin memiliki yang begitu besar yang akhirnya mengendalikan dirimu sendiri. Cinta memberikan rasa nyaman, dan kamu tidak perlu untuk menjadi seseorang selain dirimu sendiri. Cinta dibuktikan oleh ujian waktu, cinta diasah oleh perbedaan pendapat dan kerelaan untuk mengalah. Apa yang kamu rasakan saat ini adalah cinta anak umur 13 tahun yang dramatis. Cinta ini nanti akan dikalahkan oleh cinta anak umur 14 tahun, 15 tahun, dan seterusnya. I don’t mean to be patronising, I just want you to keep this in mind. Perempuan itu menemukan cinta umur 13 tahun-nya dalam sosok lelaki remaja tampan berkulit sawo mateng yang mengenal dia tidak lebih dari sekedar nama dan kelas, tapi cinta sejatinya adalah cinta yang sampai sekarang masih bertahan dan tidak sedikitpun berubah.